Kawasan Ijen selama ini identik dengan api biru dan danau asam di puncaknya. Padahal tidak jauh dari sana, masih di wilayah Kabupaten Bondowoso, ada lanskap yang sama sekali berbeda karakternya. slot gacor Kawah Wurung adalah bekas kawah gunung api purba yang sekarang berubah jadi cekungan luas berlapis rumput hijau, dikelilingi bukit-bukit membulat yang bentuknya nyaris sempurna. Tidak ada bau belerang, tidak ada asap, hanya padang rumput terbuka dengan udara sejuk.
Asal Nama dan Bentuknya
Kata “wurung” dalam bahasa Jawa berarti batal atau tidak jadi. Nama itu merujuk pada bentuk kawah yang tidak berkembang sempurna seperti gunung api pada umumnya. Aktivitas vulkaniknya berhenti jauh di masa lalu, meninggalkan cekungan besar yang perlahan tertutup vegetasi.
Hasilnya adalah bentang alam yang terlihat seperti mangkuk raksasa berlapis karpet hijau, dengan bukit-bukit di sekelilingnya yang bisa didaki dengan berjalan kaki dalam hitungan belasan menit.
Padang Rumput dan Perubahan Warna
Warna kawasan ini berubah mengikuti musim. Di musim hujan dan beberapa bulan setelahnya, rumput tumbuh subur dan seluruh cekungan berwarna hijau terang. Menjelang puncak kemarau, warnanya berubah jadi cokelat keemasan yang punya daya tarik berbeda dan sering dianggap lebih dramatis untuk difoto.
Sapi dan kambing milik warga sering digembalakan di area ini, menambah kesan pedesaan pada pemandangan. Kehadiran ternak juga secara tidak langsung menjaga rumput tetap pendek dan padang tetap terbuka.
Mendaki Bukit di Sekitarnya
Ada beberapa bukit yang bisa didaki, dan masing-masing memberi sudut pandang berbeda. Dari puncak bukit tertinggi, seluruh cekungan kawah terlihat utuh dengan latar barisan pegunungan Ijen di kejauhan.
Jalurnya berupa jalan setapak tanah yang menanjak tanpa naungan pohon. Pendakiannya tidak berat, tapi di siang hari terik matahari cukup menyengat karena tidak ada tempat berteduh sama sekali. Pagi atau sore jadi waktu yang jauh lebih nyaman.
Suhu dan Kondisi Udara
Ketinggian kawasan ini membuat suhunya cenderung dingin, terutama pada malam dan dini hari. Angin bertiup cukup kencang di area terbuka, sehingga suhu terasa lebih rendah dari angka sebenarnya. Jaket dan penutup kepala jadi barang yang sebaiknya dibawa meski datang di siang hari.
Kabut juga sering turun tiba-tiba, terutama saat sore. Dalam hitungan menit, pemandangan yang tadinya terbuka bisa tertutup total lalu terbuka lagi. Perubahan cepat semacam ini justru jadi bagian yang menarik bagi banyak pengunjung.
Berkemah dan Bermalam
Area datar di sekitar kawah cukup luas untuk mendirikan tenda. Berkemah di sini populer karena langit malamnya sangat bersih dari polusi cahaya, sehingga bintang terlihat jelas saat cuaca cerah.
Fasilitas di lokasi masih terbatas. Ada beberapa warung sederhana yang buka pada jam-jam ramai, tapi tidak beroperasi sepanjang waktu. Membawa perbekalan sendiri, terutama air, jadi keharusan bagi yang berencana menginap.
Menggabungkan dengan Kawasan Ijen
Karena letaknya searah dengan jalur menuju Ijen, banyak yang menjadikan Kawah Wurung sebagai singgahan. Pola yang umum adalah mendaki Ijen dini hari untuk melihat api biru dan matahari terbit, lalu turun dan mampir ke Kawah Wurung menjelang siang.
Di jalur yang sama juga terdapat perkebunan kopi Arabika milik warga dan perusahaan, dengan pemandangan barisan tanaman kopi yang menutupi lereng. Beberapa lokasi membuka kunjungan untuk melihat proses pengolahan kopi dari buah sampai siap seduh.
Penutup
Kawah Wurung menawarkan sisi lain dari kawasan Ijen yang selama ini didominasi cerita tentang belerang dan kawah asam. Padang rumput luas dengan bukit-bukit membulat menciptakan lanskap yang terasa lapang dan menenangkan, sangat berbeda dari suasana keras di puncak Ijen. Kombinasi keduanya dalam satu perjalanan memberi gambaran lengkap tentang bagaimana aktivitas gunung api membentuk wajah kawasan ini selama ribuan tahun.